Senjata Disiplin


Total kunjungan 114 , Kunjungan hari ini 4 


 

Semua perusahaan memiliki budaya, dan beberapa perusahaan memiliki disiplin. Tetapi, hanya segelintir perusahaan yang memiliki budaya disiplin. (Jim Collins)

Sebuah pembelajaran yang besar bagi kita semua dari kemajuan ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dicapai oleh bangsa-bangsa besar ialah bahwa hanya bangsa yang menggunakan senjata disiplin yang kuat dan berkelanjutan yang mampu membangun kemajuan sebagaimana di atas. Benar kan? Iya benar. Contoh, bangsa itu misalkan, ada Jepang, Singapura, Vietnam, Korea Selatan, dan Taiwan. Kemajuan mereka seolah-olah seperti halnya mengedipkan mata yang hanya sedetik dua detik.

Mari kita coba melihat Negara Sakura (Jepang). Tradisi disiplin di Jepang itu tidak hanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga berlaku di sebuah perusahaan dan instansi public lainnya. Dari sisi bisnis, saya ambil dari buku Prof. Rhenald Kasali Ph.D ‘Myelin’ (Mobilisasi Intangibles Menjadi Kekuatan Perubahan). Jadi begini, Jepang pernah mengalami kehancuran total pada Perang Dunia II ketika Amerika Serikat beserta sekutunya menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada 1945. Bom yang begitu dasyatnya dan sangat mematikan segala sesuatu di Jepang. Akibat bom itu, Jepang luluhlanta. Sebanyak 140.000 orang di Hirosima dan 80.000 orang di Nagasaki meninggal dunia.

BACA JUGA  Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Gelar Talkshow Pranikah

Namun, yang menarik ialah Jepang bisa bangkit kembali dengan begitu cepatnya dan tidak terlena dalam kesedihan yang berlarut-larut. Setelah pengeboman Hirosima dan Nagasaki, kesadaran nasionalisme rakyat Jepang tumbuh indah. Mereka ingin menjadi yang terbaik dalam segala bidang apapun, termasuk bisnis. Dengan bekal senjata disiplin, Jepang mulai berfikir dan berfikir. Bekerja dan terus berusaha bekerja keras. Kekonsistenan selalu menyelimuti detik dan menit mereka bekerja. Dan nyata bukan mimpi lagi, sekarang kita bisa buktikan dan akui bersama, Toyota, Yamaha, Honda, Sony, Mitsubishi, dan seterusnya menjadi perusahaan yang mendunia dan menjadi lokomotif ekonomi Negara Jepang.

Ada lagi cerita yang bisa dibuat refrensi bahwa senjata disiplin itu memang benar-benar luar biasa hebatnya. Baiklah, ketika perusahaan besar PT Wijaya Karya (WIKA) menandatangi kerjasama dengan perusahaan besar dari Jepang, yaitu Japan Gas Corporation (JGC). Perusahaan Jepang itu memesan tiang pancang dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu, pihak Japan Gas tak ingin berkompromi soal kualitas tiang pancangnya. Yang mereka inginkan ialah produk-produk pesanannya tidak memiliki cacat sedikitpun.

Untuk memastikan hal demikian, dengan penuh ketangkasan, pihak WIKA harus menerapkan quality control (QC) yang ketat. Selain itu, pihak Japan Gas sangat tidak keberatan memberi pelatihan kepada karyawan WIKA guna meningkatkan standart kompetensi mereka. Tak hanya itu, guna menjamin kualitas produk pesanannya, pihak Japan Gas juga ingin WIKA menunjuk manajer pabrik yang dinilai bertanggung jawab dan dapat diandalkan, serta mau turun lapangan langsung bersama-sama kru dari Japan Gas.

BACA JUGA  Pentingnya Kerjasama Tim

Awalnya, manajer WIKA cukup kaget mendengar keinginan pihak Japan Gas. Begini, ujar manajer WIKA dalam hati, “Saya ini manajer, kok harus juga ke lapangan”? Iya, kekagetan manajer WIKA semakin bertambah ketika ia harus rapat setiap hari dengan Japan Gas. Meletihkan dan membosankan, atau bahkan menjengkelkan. Padahal, tradisi rapat di WIKA adalah satu minggu sekali. Mau tidak mau, ia harus menjalaninya. Dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan baginya untuk terbiasa bekerja dengan sistem kerja ala orang-orang Jepang. “Saya seperti dipelonco, “ucapnya sambil meringis.

Manajer tersebut merasa sangat beruntung mengalami pola yang begitu. Sebab apa? Dari situ banyak didapat pengalaman-pengalaman yang luar biasa hebatnya. Dan sangat membentuk tradisi baru dalam dirinya. Kedisiplinan, kerja keras, ketelitian, dan sistem kerja yang bagus.

BACA JUGA  Peduli Aceh, Mahasiswa FAI Melakukan Penggalangan Dana

Amazing and the best, kalimat yang pantas disematkan kepada ‘kedisiplinan’. Senjata untuk membangun dan mempertahankan, bahkan bisa menciptakan peradaban produktif.

Dalam sebuah organisasi, senjata disiplin sangatlah penting. Disiplin dalam hal berfikir, disiplin bertindak, disiplin memanfaatkan peluang, disiplin berkomunikasi, dan disiplin melihat masa depan yang lebih konstruktif. Sudah jelas, banyak contoh-contoh Negara maju dalam hal apapun karena memakai senjata ini. Jadi, harus kita akui bersama dan kita budayakan mulai sekarang. Dari dalam diri, kelompok atau lingkungan.

Senjata disiplin dalam organisasi itu juga akan meningkatkan kecerdasan dan kasantunan sosial. Membuat cara berfikir menjadi segar, begitupun menyejukkan. Visi dan misi akan kelihatan lebih dekat untuk dikunjungi. Menambah kemesraan, komunikasi tertata baik vertikal maupun horizontal. Memangkas kesalah pamahan, menghapus rasa malas yang tak kunjung hilang, dan memecah cara berfikir kolot (satu sisi).

Organisasi apapun akan besar kalau memakai senjata disiplin. Ada kalimat menarik sebagai penutup tulisan saya ini, dari Erica Jong, ‘Setiap orang punya bakat, yang jarang dimiliki adalah keberanian untuk mengantarkan bakat itu melewati lorong-lorong kegelapan dengan penuh disiplin’.

Wallahua’alam

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Punggawa Al-Qossam)

 

source :zahiraccounting.com

source :zahiraccounting.com

Komentar

komentar