Tiga Pilar Kemajuan Pendidikan Perspektif Sosiologis


Total kunjungan 54 , Kunjungan hari ini 1 

Forum Kajian Dosen “Padhang Wetan” telah mencapai putaran ke-10. Dalam forum ini, Bapak Rusman, M.Pd.I. selaku narasumber mengangkat tema Pendidikan Berkemajuan Perspektif Sosiologis. Agenda tersebut dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Juli 2016 bertempat di kediaman Bapak Isa Anshori, M.Ag, Wakil Dekan I Fakultas Agama Islam UMSurabaya.

Dalam narasinya, Rusman, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam FAI UMSurabaya menyampaikan bahwa kemajuan dan kemunduran pendidikan salah satunya ditentukan oleh faktor sosial yang muncul. Menurutnya, terdapat tiga faktor sosial yang mempengaruhi, yakni (1) Faktor Sosial dari murid, berupa bakat, keadaan keluarga, lingkungan sebaya, dan sebagainya. (2) Faktor sosial Guru/Pengajar, berupa penguasaan keilmuan, tingkat kesejahteraan, lingkungan kerja, hubungan dengan wali murid, dan sebagainya, (3) Faktor sosial lembaga pendidikan, berupa Manajemen lembaga, profil lembaga, dan sebagainya. Ketiga faktor ini saling berkaitan satu sama lain sehingga dapat diibaratkan sebagai tiga pilar. Apabila salah satu pilar tidak dapat berdiri secara tegak maka akan berpengaruh pada pilar yang lainnya.

BACA JUGA  Dinamika Penegakan Hukum Islam di Pengadilan Agama dari Masa ke Masa

IMG-20160801-WA0001

Dalam perkembangannya, indikator untuk menentukan hubungan sosial yang baik antara Guru/Dosen dan Murid/Mahasiswa dapat menggunakan pendekatan yang digunakan oleh A Haris dalam bukunya “I am OK, You are OK). Setidaknya terdapat empat pola hubungan, yakni (1) I am not OK, You are OK, (2) I am OK, You are not OK, (3) I am not OK, You are not OK, dan (4) I am OK, You are OK. Dari keempat pola tersebut di atas, pola keempat adalah pola yang paling baik dan berkemajuan. Pola tersebut sekaligus dianggap sebagai sebuah pola yang ideal untuk dilaksanakan.  Apabila pola yang berlangsung belum berada pada pola keempat tersebut, maka hubungan timbal balik yang ada belum dapat dikategorikan ideal, sehingga perlu adanya pembenahan pada beberapa hal yang menjadikan hubungan tersebut tidak ideal.

BACA JUGA  Kampus Merdeka, Lulusan Berdaya Saing

Sholikh al Huda, pengasuh kajian Padhang Wetan dan kandidat Doktor UINSA mencoba untuk menggunakan pendekatan tersebut dalam membaca realitas di Fakultas Agama Islam UMSurabaya. Menurutnya, untuk masuk dalam pola keempat, maka perlu adanya rekonstruksi dalam beberapa hal di lingkungan FAI UMSurabaya, antara lain adalah Rekonstruksi Ideologi Keilmuan, yakni perubahan dasar bangunan keilmuan dari “Science for Science” atau ilmu untuk ilmu, menjadi :Science for Society” atau ilmu untuk masyarakat. Ini sangat penting agar kajian ilmiah yang selama ini dilakukan di FAI UMSurabaya dapat memberi dampak positif bagi masyarakat. Rekonstruksi yang kedua yakni Rekonstruksi Relasi Kelembagaan. Agar rekonstruksi ini dapat terwujud maka diperlukan Sumber Daya Manusia Dosen dan Tenaga Kependidikan yang mumpuni. “Tagline yang selama ini menjadi motto FKD Padhang Wetan dapat menjadi solusi untuk melakukan rekonstruksi, yakni dengan Noto Ati (menata niat), Noto Pikir (melakukan peningkatan intelektual) dan Noto Laku (manajemen kelembagaan)”, ungkapnya sebagai penutup kajian.

Komentar

komentar