Yuk, Berkenalan dengan PAUD


Total kunjungan 76 , Kunjungan hari ini 1 

Oleh : Bobi Puji Purwanto (Ketua Umum IMM Al-Qossam)

Setiap hari, kecuali hari minggu atau peringatan hari besar nasional, saya selalu berkunjung ke sekolah-sekolah, khususnya Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PG-TK). Tepat di sela-sela kunjungan itu, saya sering sempatkan melakukan aktivitas “memantau” kondisi lingkungan pembelajarannya. Entah itu dari sisi sarana prasarana, siswa, bahkan guru serta karyawan. Ya, banyak hikmah yang bisa saya dapatkan. Selain sebagai kewajiban mencari rupiah, kegiatan yang setiap hari saya lakukan juga sangat menunjang perkembangan pengetahuan mengenai dunia pendidikan.

Memang, terlihat berbagai macam karakter saya sudah temui. Mulai dari siswa yang aktif bermain, belajar membaca, menggambar serta bertingkah menjengkelkan gurunya. Lalu, sarana-prasarana yang bermutu, bahkan yang tidak layak sama sekali dipakai dalam sebuah pembelajaran. Kemudian, guru yang suka berdiskusi, menulis, membaca, berkumpul santai, sibuk membuat laporan, suka makan, tertawa dan seterusnya. Ini nyata terjadi. Ya, mungkin di selain sekolah PAUD juga bisa kita temukan hal-hal begitu.

Masuk dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini, bisa kita singkat PAUD. Lalu, apa PAUD itu ?

Baiklah, bagi kita yang sudah tau atau belum tau, kita cermati lagi. Saat ini, PAUD umumnya diperuntukkan bagi anak usia 2-6 tahun, terbagi menjadi usia 2-4 tahun masa pra Taman Kanak-Kanak (pra TK) atau biasanya disebut PG, dan 4-6 tahun di Taman Kanak-kanak (TK). PAUD menjadi tempat untuk melaksanakan pendidikan formal yang pertama kalinya. Mereka disitu diajarkan tentang berbagai macam pengetahuan dasar lebih kepada psikomotorik tentang berkehidupan yang santun dan bijak.

Di Indonesia, menurut Permendiknas no. 58 tahun 2009, PAUD dijabarkan sebagai pendidikan awal untuk mengembangkan moral dan agama, motorik halus dan kasar, kecerdasan, sosio emosional, dan komunikasi sesuai tahapan perkembangan anak. Sehingga, mereka suatu saat ketika naik ke sekolah selanjutnya bisa mempunyai mental tidak takut dan cermat melihat sesuatu obyek. Terlebih lagi, dewasa mampu menguasai dan menaklukan perilaku tidak baik dan menjadi seorang pemenang.

BACA JUGA  The Power Of Marketer

Pelan-pelan, jadi ilustrasinya begini. Ibarat bangunan besar dan megah. Struktur pembuatannya pasti awalnya dimulai dari pondasi. Lalu, pemasangan tembok, sampai pada atap atau genting. Kemudian baru dicat dan divariasi secantik mungkin. Apabila pondasinya tidak kuat, maka apa? Bangunan setinggi langit, atau seluas lautan pasti ambruk. Bahkan, sekecil-kecil bangunan, jika pondasi lembek pasti ambruk juga. Pondasi itu kaki, jika kakinya patah, maka sudah pasti ia tidak bisa berjalan normal dan susah untuk melakukan sesuatu.

Sama halnya dengan bangunan karakter manusia. Jika peletakan pertama pengetahuan tidak kokoh serta lembek, maka kelanjutannya juga tidak begitu sempurna, ambruk. Betul kan? Betul. Pendidikan Anak Usia Dini adalah salah satu yang dimaksud. Pendidikan formal dasar atau awal. Pengenalan ilmu akhlak dan membangun mental driver. Ini menunjukkan, bahwa proses penanaman pondasi pengetahuan anak di paud harus diperhatikan betul-betul, khususnya bagi para guru. Harus ada manage yang bagus dalam setiap prosesnya.

Dalam tulisan ini saya sampaikan, bahwa perjuangan guru paud dalam membentuk karakter anak-anak manusia patut diacungi jempol. Mereka selalu berhati-hati. Terlebih harus kita contoh. Tidak tepat jika kita remehkan. Sebagaimana yang saya lihat di lapangan, kurang lebih ada ratusan PAUD di Surabaya dan Sidoarjo yang saya pantau guru-gurunya ketika memberikan pendidikan. Jadi, ini yang dimiliki guru PAUD yang harus kita contoh dalam melakukan pendidikan kepada anak-anak didiknya.

Expert Pada Bidangnya.
Potensi guru PAUD sudah tidak bisa diragukan lagi. Meskipun imbalan materi mereka saya kira tidak sesuai dengan porsinya. Guru PAUD adalah guru-guru yang teruji dan terlatih. Mereka semua mengajar sesuai dengan jurusan yang diambilnya ketika belajar di bangku kuliah. Semuanya, rata-rata. Belum saya temukan, kalau guru paud lulusan kesehatan yang fokusnya di rumah sakit atau tehnik yang fokusnya membuat kapal, dan sebagainya. Ini menjelaskan bahwa guru PAUD mempunyai potensi yang tepat pada bidangnya. Oleh karenanya, kemajuan anak-anak bangsa, salah satunya bisa diukur dari sejauh mana mereka mendapatkan pendidikan dari guru yang expert pada bidangnya.

BACA JUGA  Belajar Berbuka Puasa Sewajarnya

Suka Berkumpul dan Berdiskusi
Saya sering melihat selepas pulang sekolah, kira-kira jam 10.00 WIB sampai 11.00 WIB. Peserta didik pada pulang, tapi gurunya sampai jam 13.00 WIB masih di sekolah, bahkan hingga sore. Para guru ketika saya tanya, “Bu, kok masih di sekolah? “, mereka selalu menjawab, “Rapat pak”. Pasti begitu. Setelah saya menyaksikan sendiri, ternyata mereka rapat tentang evaluasi pembelajaran hari itu dan membahas perkembangan sekolah ke depan. Dan itu mereka lakukan setiap hari setelah peserta didik meninggalkan sekolah. Meskipun terkadang kondisinya santai. Ini mengingatkan saya dengan perusahaan terbaik di Jepang. Misalkan, perusahaan yang fokus pada migas, Japan Gas Corporation (JGC). Setiap hari mereka selalu rapat membahas perkembangan. Dan hasilnya sangat luar biasa, mereka mampu menjadikan perusahaannya besar dan berkualitas.

Telaten
Tentu kita tau, bahwa mendidik anak yang masih usia 2-6 tahun sangat diperlukan usaha keras dan cerdas. Apalagi guru di sekolah yang menjadi orang kedua mereka. Tingkah dan lakunya semaunya sendiri. Kadang membuat guru “kuwalahan”. Benar tidak? Ya, begitulah. Tapi tidak berhenti disitu. Guru paud adalah guru yang sangat telaten. Ia selalu merawat dengan baik anak-anak didiknya. Mulai dari nyuapin makan dan minum, mengganti popok, memandikan, bahkan “nyeboki’ peserta didiknya. Patut dijadikan contoh bagi kita calon pendidik.

Sabar dan Ikhlas
Selain telaten, guru juga sabar dan ikhlas terhadap imbalan materi yang mereka dapatkan. Ketika mendapati murid yang tingkah luar biasa, guru tidak pernah bertindak kasar. Mereka selalu sabar dan terus membimbing muridnya. Kemudian, mereka juga ikhlas dengan gaji yang didapat. Sepanjang saya tahu, gaji mereka kurang lebih kisaran 200-400 ribu per bulan. Kecuali guru yang sudah sertifikasi atau PNS. Ini menunjukkan bahwa keikhlas mereka yang menyebabkan bertahan demi masa depan anak-anak bangsa. Prinsip mereka dalam mengajar ialah, anak adalah aset negara, menjadikan mereka pribadi yang baik dan berdaya saing merupakan tugas terhormat. Masalah gaji, biar sang kuasa saja yang memberi dari arah yang tidak dikira-kira. Jika, kita belajar ilmu management pengembangan diri, dari buku “A Tribute To Others Empowering Leadership, Jamil Azzaini, mereka termasuk dalam derajat manusia level diantara 3 dan 4. Memaksimalkan potensinya untuk kebaikan bersama yang tujuannya adalah keridhaan sang maha kuasa.

BACA JUGA  Antara Kisah, Hikmah, dan Sikap Kita

Penampilan dijaga
Ya, wajahnya cerah, penuh kesabaran, murah senyum, dan berpenampilan sopan. Guru paud seperti itu yang saya temui. Meskipun mereka cara mengajar santai dan banyak permainannya, mereka selalu menjaga penampilan agar tetap berwibawa di mata muridnya. Salah satu keistimewaan guru adalah menjaga wibawa. Dengan berpenampilan ilegan serta santun. Dalam istilah jawa saya pakai, “Ajining Rogo Soko Busono”. Penampilan yang akan melahirkan penilaian orang lain.

Lembut
Pasti, kita akan sulit menemukam guru paud yang sikap dan sifatkan keras dan kasar. Kabanyakan mereka semua lembut bersikap. Entah dari tutur katanya menyambut para tamu, ketika mengajar, dan lembut dalam menempatkan diri sewaktu kegiatan-kegiatan apapun. Jadi, kelembutan itu yang membuat banyak orang kagum. Istilah Jawa juga sangat membantu, bahwa “Ajining Rogo Soko Lathi”. Tutur kata (lidah) salah satunya yang melahirkan penilaian orang lain.

Spiritualistik
Spritualistik. Sebagaimana yang disampaikan di atas, guru paud sangat menjaga hubungan dengan sang pencipta. Segala yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha sang pencipta. Bagi yang muslim, mereka selalu menjalankan kegiatan-kegiatan spiritual pada setiap momen. Saya pernah menjumpai, ketika datang waktunya sholat, mereka langsung bergegas menuju tempat peribadahan. Meskipun kondisi lagi sibuk ini dan itu. Momen spiritualistik ini sangat penting diperhatikan. Karena campur tangan sang maha kuasa akan menentukan keberhasilan sebuah pendidikan.

Maka, saran saya, masukkan anak-anak kita di sekolah PAUD (PG-TK). Pendidikan di rumah oleh orang tua, akan terlihat lebih sempurna apabila dibarengi dengan anak kita mendapat pendidikan dari guru-guru terbaik di PAUD. “Anak-anak adalah sumber alam kita yang paling berharga”. (Herbert Hoover)

SalamAction..

Komentar

komentar

Leave a comment